Sukses

Sukses Namun Tidak Bahagia

Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.

QS Al-Jaatsiyah (Yang Berlutut) 45:24

Di Amerika Serikat ada seorang managing partner biro hukum yang sangat sukses dan kaya raya. Namun, saat usianya mencapai 50 tahun, ia merasakan sesuatu menggerogoti hidupnya. Ia melihat dirinya sebagai budak waktu, yang bekerja hanya untuk memenuhi tuntutan para mitra serta kliennya. Keberhasilannya menjadi “penjara” baginya.

Shoshana Zuboff, seorang psikolog dan pengajar di Harvard Business School, menangkap adanya kesadaran dan kebutuhan ini. Maka, ia membuat sebuah program refleksi diri bernama ODYSSEY. Mereka yang mengikuti program ini rata-rata orang yang sangat sukses, dan telah berhasil meraih impian yang telah mereka tetapkan saat berusia antara 20an sampai 30an. Namun, ketika mereka memandang ke depan, mereka berkata, “Sekarang apa?” Mereka merasakan sebuah kekeringan.

Salah seorang pengusaha sangat sukses, yang ada dalam program itu, justru akhirnya mendapatkan dirinya menggeluti bidang yang sangat dibencinya, “Perusahaan ini telah sampai ke taraf memperbudak saya. Saya merasa terjebak. Saya tidak menyukai apa yang kini saya kerjakan. Saya lebih suka mengutak-atik mesin kapal saya, atau apa saja, asalkan bukan pekerjaan ini.” Menurut Michael Banks, seorang executive coach (trainer bagi para eksekutif) untuk KRW intenasional yang berkantor di Minneapolis Minnesota, New York, begitu usia mereka mendekati lima puluh tahun, mereka baru merasakan ada yang salah pada diri mereka. “Ada kepingan yang hilang dalam diri kami.” Mereka tidak bahagia dengan kesuksesannya.

Banyak lagi orang yang merasa sudah mencapai cita-cita atau puncak kesuksesan, baik karir maupun materi, tetapi merasakan sesuatu yang “hampa dan kosong”.

Bahagia

Umumnya, mereka baru menyadari bahwa mereka telah menaiki tangga yang salah, justru setelah mencapai puncak tertinggi anak tangga kariernya. Ternyata pada akhirnya, uang, harta, kehormatan, dan kedudukan bukanlah “sesuatu” yang mereka cari selama ini.

Orang-orang sukses tadi jelas orang yang sangat bermanfaat secara sosial dan ekonomi bagi perusahaannya, tetapi mereka kehilangan makna spritual dalam dirinya sendiri. Penyakit seperti ini banyak diderita oleh orang-orang modern, yang sering dinamakan spiritual pathology atau spiritual illness. Lihatlah beberapa contoh peristiwa di sekitar kita, seperti presiden direktur Hyundai yang meninggal secara mengenaskan. Ia mati bunuh diri dengan meloncat dari gedung pencakar langit. Juga, seorang top eksekutif Indonesia, mati bunuh diri dengan terjun bebas dari sebuah apartemen berlantai 56 di Jakarta.

Barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta

QS Thaahaaa 20:124

Tags: ,

Leave a Reply

Required fields are marked*