Miracle of Giving

Giving atau dalam bahasa Indonesianya dapat diartikan memberi, berbagi, atau bersedekah. Menurut dari beberapa peneliti berpendapat bahwa memberi, berbagi, atau bersedekah itu berasal dari hati, dan ini merupakan salah satu dari kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional dapat disebut dengan EQ (Emotional Quotient), EQ sendiri juga pernah dibuktikan dalam penelitian bahwa EQ dua kali lebih penting dari pada IQ.

givingBagi orang selalu berpikiran dengan otak kiri atau dengan logika, pasti akan selalu bertanya “Mengapa Berbagai Malah Dapat Menambah Rezeki??”, sedangkan untuk orang yang selalu berpikir dengan otak kanan, akan memiliki kepercayaan yang tinggi kepada Allah akan bahwa  “Berbagi Akan Menambah Rezeki”, dan merupakan Investasi.

Daripada Abu Hurairah r.a berkata bahawa Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya : “ Sedekah tidak mengurangkan harta. Allah tidak melebihkan seseorang hamba dengan kemaafan-Nya melainkan kemuliaan dan tidak merendahkan diri seseorang melainkan Allah mengangkatnya.” (Muslim, ad-Darimi dan Ahmad)

Memang benar bahwa memberi, berbagi, atau bersedekah itu tidak mengurangi harta atau rezeki bila datang dari hati nurani yang ikhlas. Dalam sedekah juga jangan pernah ada mengira-ngira, hal ini pernah dijelaskan yakni, sebagai berikut.

Dari ‘Asma binti Abu Bakar as-Siddiq r.a katanya, dia datang kepada Rasulullah s.a.w, lalu dia bertanya:”Ya nabi Allah! Aku tidak mempunyai apa-apa untuk disedekahkan selain yang diberikan Zuber (suamiku) kepaku (untuk belanja rumahtangga). Berdosakah aku apabila wang belanja itu kusedekahkan ala kadarnya ?”Jawab nabi s.a.w :”Sedekahkanlah ala kadarnya sesuai dengan kemampuanmu dan jangan menghitung-hitung kerana Allah akan menghitung-hitung pula pemberian-Nya kepadamu dan akan kedekut kepadamu.” (Muslim). Di dalam memberi, berbagi, atau bersedekah jangan suka melakukan ‘pamer’ atau riya’.

Sudah ada beberapa orang membuktikan bahwa memberi, berbagi, atau bersedekah itu dapat menambah rezeki, namun harus dilakukan dengan penuh ikhlas dan keyakinan. Bila tidak ada keyakinan yang kuat maka tidak akan berhasil dan akan hanya mendapat pahala saja.

Untuk menyakinkan bahwa “Berbagi/Sedekah Akan Menambah Rezeki”, berikut ada kisah tentang seorang Janda yang menyedekahkan uang 1 Juta rupiah.

Seorang ibu berusia 59 tahun bernama Hastuti di Jati Asih Bekasi saat itu sedang gamang. Ia tengah berdiri di sebuah konter bank setelah menarik dana sebesar 1 juta rupiah dari Teller. Rasa sedih menghinggapinya lagi. Hampir saja ia menangis meratapi jumlah saldo tabungannya yang kini tersisa 7 juta sekian.

Bukan masalah duit yang tersisa yang sebenarnya yang membuat ia hampir menangis. Namun, sungguh saldo itu semakin jauh saja dari Biaya Setoran Haji yang berjumlah 28 juta.

Sudah berkali-kali ia mencoba menyisihkan uang yang ia miliki untuk dapat berhaji. Namun sudah berulang kali angka saldo itu tidak pernah lebih dari Rp 8 juta. Setiap kali sampai angka tersebut, selalu ada saja keperluan mendesak yang harus ia tutupi. Jadi, saldo di tabungan bukannya makin bertambah, yang ada selalu kurang dan berkurang. Semalam Hastuti tak kuasa menahan gundahnya. Ia laporkan kegalauannya kepada Tuhan Yang Maha Mendengar dalam doa & munajat.

Seolah mendapat ilham dari Allah, paginya ia menarik dana sebesar 1 juta. Kali ini dana yang ia tarik bukan untuk keperluannya pribadi, namun uang sejumlah itu akan ia infakkan kepada anak-anak yatim yang berada di lingkungannya.

Sejak pagi, ibu Hastuti sudah keluar dari rumah. Menjelang sore, baru ia kembali setelah mengambil uang di bank dan kemudian membagikannya kepada anak-anak yatim di sekitar.

Ia tiba di rumah pada pukul setengah empat sore. Ia langsung menuju kamar. Usai ganti baju dan shalat Ashar, ia panggil pembantunya yang bernama Ijah untuk membuatkan secangkir teh.

Ijah pun datang dan membawakan teh untuk sang Majikan. Dalam rumah seluas 200 meter itu, hanya mereka berdua yang mendiami. Ibu Hastuti adalah seorang perempuan yang sudah belasan tahun menjanda. Ia memilik 3 orang putra dan 2 putri. Kini semuanya telah berkeluarga dan meninggalkan rumah. Ibu Hastuti tinggal sendiri bersama Ijah dalam masa tuanya. Hal ini mungkin adalah sebuah potret lumrah masyarakat modern Indonesia zaman sekarang.

Saat Ijah datang membawa teh pesanan majikannya. Setelah meletakkan cangkir teh di meja, Ijah mendekat ke arah majikannya untuk memyampaikan sebuah berita.

“Bu…, tadi saat ibu pergi, den Bagus datang kira-kira jam 9. Ia tadinya mencari ibu, tapi karena ibu gak ada di rumah, ia nulis surat dan nitipkan sebuah amplop cokelat.”

Ibu Hastuti pun kemudian mengatakan, “Oalah… Kok nggak bilang-bilang kalau mau datang. Aku khan juga kangen. Sudah lama gak ketemu. Ayo, mana Jah suratnya. Mungkin dia juga kesel sudah datang jauh-jauh tapi gak ketemu dengan bundanya.”

Ijah pun masuk kembali untuk mengambil surat den Bagus dan amplop yang dititipkan. Amplop cokelat itu seperti berisikan sejumlah uang. Bentuknya pun tebal. Apalagi dalam amplop tersebut bertuliskan logo sebuah bank. Namun hasrat untuk membuka amplop itupun ditahan oleh Bu Hastuti. Tangannya kemudian bergerak ke selembar kertas yang disebut sebagai surat oleh Ijah.

Bu Hastuti mulai membacanya. Diawali dengan basmalah dan salam, surat itu dibuka. Tak lupa ucapan dan doa kesehatan untuk bunda dari anak-anaknya.

Tak lebih dari 2 menit, surat itu telah selesai dibaca oleh ibu Hastuti. Namun dalam masa yang singkat itu, air mata membanjiri kedua matanya, mengalir deras menetesi pipi dan beberapa bulir terlihat jatuh di surat yang ia pegang. Kemudian ia pun mengintip uang yang berada dalam amplop cokelat itu. Kemudian ia berucap kata “Subhanallah!” berulang-ulang seraya memanjatkan rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan atas anugerah yang tiada terkira.

Seusai mengontrol hatinya, ia segera menelpon Bagus, anak pertamanya. Saat nada sambung terdengar, ia menarik nafas yang dalam. Begitu tersambung, bu Hastuti langsung mengucapkan salam dan mengatakan,

“Terima kasih ya Nak… Subhanallah, padahal baru semalam ibu berdoa mengadu kepada Allah kepingin berhaji, tapi ibu malu mau cerita kepada kalian semua. Takut ngerepotin… Eh, kok malah pagi-pagi kalian semua sudah nganterin duit sebanyak itu. Makasih ya, Nak… Nanti ibu juga mau telponin adik-adikmu yang lain. Semoga murah rezeki dan tambah berkah!”

Di seberang sana, Bagus putra pertamanya berkata, “Sama-sama bu… Itu hanya kebetulan kok. Beberapa hari lalu, saya ajak adik-adik untuk rembugan supaya dapat menghajikan ibu. Kebetulan kami semua lagi diberi kelapangan, maka Alhamdulillah uang itu dapat terkumpul. Mudah-mudahan ibu bisa berhaji selekas mungkin….”

Nada suara Bagus terdengar ceria oleh ibunya. Seceria hati Hastuti kini. Sudah lama ia bersabar untuk dapat berhaji ke Baitullah.

Alhamdulillah setelah penantian sekian lama, Allah lapangkan jalan bu Hastuti untuk datang ke rumah-Nya dengan begitu mudah. Dengan dana Rp 30 juta dari anak-anaknya, niat untuk berhaji pun ia wujudkan pada tahun 2004. Walillahil Hamd!

Demikian artikel pencerahan ini semoga bermanfaat bagi para pembaca…

2 Comments

  1. Ya, memang bersedekah/berbagi terhadap sesama yang membutuhkan, tak pernah membuat kita merugi. Nice post 🙂

  2. sedekah melipatgandakan rejeki

Leave a Reply

Required fields are marked*