Bersyukur dan Kebahagiaan

Bersyukur dan Kebahagiaan

Kebahagiaan di dunia maupun di akhirat adalah impian setiap manusia. Kita para manusia bahkan sampai membuat slogan menurut dan kita sendiri “Muda kaya raya, Tua Bahagia, Mati Masuk surga” lucu kan slogannya?. Ya, lucu tetapi pasti itulah mimpi dan harapan kita semua.

Muda kaya raya adalah cerminan mimpi kita bahwa sebagian dari kita memikirkan kebahagiaan sebagai bentuk dari kebahagiaan secara fisik yaitu yang terlihat oleh mata manusia berupa kekayaan harta benda. Padahal, kebahagiaan itu sendiri bisa dilihat dari dua sudut pandang. Kebahagiaan lahiriah maupun kebahagiaan secara batiniah. Kebahagiaan lahiriah memang terlihat dari seberapa banyak harta benda yang kita miliki sampai saat ini. Manusia lainnya tidak akan pemah mengetahui dari manakah kekayaan itu kita dapatkan. Apakah dari perbuatan yang diridhoiNYA atau justru dimurkaiNYA. Manusia lainnya baru bisa mengetahui setelah Allah SWT membukakan rahasia dari kekayaan kita jika DIA menghendakinnya.

Sedangkan kebahagiaan batiniah lebih kepada rasa tenang, nyaman, dan tanpa perasaan takut. Kebahagiaan batiniah jarang sekali dirasakan oleh banyak manusia. Kebanyakan ada yang begitu mencintai hartanya, sampai ketakutan akan kehilangan hartanya melalui sedekah. Itulah sebetulnya pemikiran yang sangat merugi. Seseorang yang seperti itu lebih mementingkan berbelanja dan menginvestasikan hartanya untuk mendapatkan tumpukan harta lainnya. Tanpa berusaha memikirkan keadaan di sekitamya. Atau bahkan dia tidak diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk memikirkan orang-orang di sekitarnya. Itulah sosok manusia yang ditutupkan hatinya oleh Allah SWT.

Karena sebetulnya saat kebahagiaan lahiriah tidak berjalan beriringan dengan kebahagiaan batiniah, itu berarti ada yang salah dengan peniatan di awalnya. Jika awal dari mencari kebahagiaan tidak berfokus untuk beribadah dan memperoleh ridhoNYA sesuai dengan kewajiban kita sebagai seorang hambaNYA maka jangan salahkan jika banyak sekali godaan yang akan timbul. Godaan itu bukan hanya cobaan berupa kegagalan atau kekecewaan.

Godaan itu bisa berupa kebahagiaan. Karena, mungkin Allah SWT akan menguji kita dengan kebahagiaan. Manusia saat berbahagia apakah akan meniatkan kebahagiaannya untuk kebaikan atau tidak. Itulah sebetulnya cobaan yang begitu berat. Karena, setelah ada satu kebahagiaan, kebanyakan dari kita bukannya bersyukur namun selalu mengharapkan kebahagiaan lainnya akan terus terjadi dalam kehidupannya. Kebahagiaan itu berlandaskan kepuasan diri kita yang tidak pernah mengenal kata CUKUP.

Rasa bersyukur pun semakin minim. Padahal, melalui rasa syukur itu kita akan senantiasa mengharapkan keridhoan-NYA, membesarkanNYA dan selalu mengharapkan kasih sayangNYA dimanapun kita berada. Kita dengan segala kekurangan tidak akan merasa sulit untuk beribadah dan memohon ampun atas segala dosa-dosa kita. Berbeda dengan kita yang menuntut kebahagiaan terus menerus namun lupa akan bersyukur. Naudzubillah, semoga kita dihindarkan dari pemikiran semacam itu.

syukur

Sebetulnya mengapa memberikan kebahagiaan dan kesedihan kepada kita?
Sebetulnya mengapa Allah SWT menciptakan kekayaan, kepintaran, kecantikan, ketampanan kepada kita? Mungkin kita sering berpikir demikian. Tanpa kita sadari kita mendidik diri kita untuk berpikir maksud dari penciptaan diri kita sendiri.

Dalam salah satu surat, disebutkan bahwa tujuan kita ada disini (bumi) hanyalah untuk beribadah kepadaNYA. Bahwa dunia ini hanya sementara dan yang kekal adalah kehidupan di masa yang akan datang. Namun, semakin bertambahnya usia bumi ini. Tolak ukur kebahagiaan menjadi semakin abstrak. Bahkan banyak orang di luar sana melakukan segala macam cara untuk memperoleh kebahagiaan.

Karena sebetulnya orang tersebut memandang kebahagiaan sebagai suatu HASIL. Bukan sebagai sebuah PROSES. Sedangkan, yang dikatakan sebagai hasil, pasti yang kita inginkan adalah sebuah keberhasilan. Maka, sebagian dari kita hanya akan bersyukur saat mengalami kebahagiaan. Sedangkan, saat diberikan sebuah ujian, kesedihan, kekecewaan dan hal yang tidak kita harapkan. Kita lupa untuk BERSYUKUR. 

Kita sampai melupakan maksud Allah SWT dibalik rencananya tersebut. Dan kita melupakan suatu hal. Bahwa bukan karena kita bahagia, lantas kita BERSYUKUR. Namun, BERSYUKUR akan selalu membuat kita bahagia.

Sumber: Nikki’s Story (hal. 63)
Tags: ,

Leave a Reply

Required fields are marked*